Jalan Hidup Anak Penjual Petis di Sidoarjo Jadi Rektor UINSA

Jalan Hidup Anak Penjual Petis di Sidoarjo Jadi Rektor UINSA

Surabaya – Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya hari ini (6/6) resmi memiliki nakhoda atau rektor baru periode 2022-2026. Yakni, Prof Akh. Muzakki MAg. Guru besar bidang sosiologi pendidikan itu tidak lain menjabat wakil Sekjen PBNU. Sebelumnya, sekretaris PWNU Jatim.

’’Betul, beliau sudah resmi menjadi rektor UINSA Surabaya,’’ kata Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dihubungi JawaPos.com, Senin (6/6).

Prof Muzakki menggantikan Prof Masdar Hilmy, rektor UINSA sebelumnya. Selain kedua profesor tersebut, dua kandidat lain yang diajukan ke Kementerian Agama (Kemenag) sebagai rektor kampus yang dulu bernama IAIN Sunan Ampel itu adalah Prof Titik Triwulan Tutik dan Prof Zumrotul Mukaffa.

Gelar guru besar diterima Muzakki pada 2015 lalu. Mengutip NU Online, ada sejumlah cerita pilu yang mengiringi perjalanan guru besar termuda di Fakultas Ilmu Sosial Politik tersebut. Dari mulai berkas yang sempat hilang, saran dari banyak kolega bahwa menjadi guru besar adalah takdir dan jangan terburu nafsu, hingga sejumlah godaan lain.

Sekelumit kesulitan tersebut disampaikan Muzakki ketika menyampaikan orasi di auditorium UINSA. “Sulit dan ketatnya aturan menjadi guru besar pasti dirasakan berlipat oleh dosen-dosen yang secara kelembagaan berada di bawah Kementerian Agama atau Kemenag,” kata ayah dua anak kelahiran 1974 ini kala itu.

Secara rinci, suami dari Erna Mawati tersebut menceritakan bahwa untuk meraih gelar profesor para dosen yang berada di Kemendikbud hanya mengalami penilaian jenjang universitas dan Dikti. ‘’Sedangkan bagi yang berasal dari Kemenag harus melewati sekian macam dan tingkatan check point penilaian,” terang peraih gelar Graduate Diploma in Southeast Asian Studies dari Fakultas Asian Studies The Australian National University (ANU) Canberra ini.

Seusai dinyatakan lulus di tingkat universitas, berkas usulan dosen dimaksud dinaikkan ke jenjang check point berikutnya, yakni Diktis Pendis Kemenag. Selesai? Ternyata tidak. Berkas yang ada dinilai oleh sidang dewan guru besar Diktis Pendis Kemenag. Berikutnya, penilaian di Dikti Kemendikbud yang sekarang berubah menjadi Kemendikbudristek.

“Di sini, berkas mengalami dua penilaian yakni penilaian angkta kredit atau PAK oleh sidang dewan guru besar dan penilaian dalam bentuk validasi oleh tim kecil yang lebih dikenal dengan tim validasi atau tim siluman,” ungkap peraih gelar master of philosophy (MPhil) dari ANU ini.

Tim siluman yang dimiliki dan dipekerjakan oleh Dirjen Dikti ini menelisik masuk ke “bilik-bilik akademik” sekecil dan sesempit apapun. “Konon, tim siluman ini diberi tugas khusus oleh Dirjen Dikti untuk melakukan validasi dokumen calon guru besar,” terang alumnus program PhD di School of History, Phi losophy, Religion and Classic, the University of Queensland Australia ini.

Belum lagi kesabarannya diuji karena pada pertengahan 2014 ternyata berkas untuk keperluan mengurus gelar profesor itu dinyatakan hilang. Mengapa bisa hilang? “Kemungkinan paling besar ada kaitannya dengan dampak bocor atap dan pindahan kantor sebagaimana disampaikan staf Diktis Jakarta,” kenangnya

Sebab, saat itu menjelang akhir 2013, Diktis yang berkantor di lantai 8 Kantor Kemang RI, di Lapangan Banteng, Jakarta, sedang dilanda bocor atap yang cukup hebat akibat hujan lebat. “Nah, saat itu juga merupakan momen-momen kepindahan kantor Diktis dari lantai 8 ke lantai 7 yang sudah direncanakan sebelumnya,” terangnya.

Dan di titik inilah awal kerumitan terjadi. Dengan sangat terpaksa, seluruh berkas diurus dari awal. Celakanya pihak Diktis hanya memberikan waktu dua minggu untuk menyelesaikan copy dokumen yang hilang tersebut. Bisa dibayangkan, kesulitan mengurus berkas di level universitas di Surabaya hingga ke Jakarta.

Namun, bersyukur akhirnya tantangan ini bisa terlewati. Apakah urusan sudah beres? Ternyata tidak. Ujian lain menghadang. Muzakki mendapat kabar bahwa staf Dikti salah menginput penilaian berkasnya. “Yang  awalnya untuk keperluan guru besar, ternyata beralih menjadi lektor kepala,” kata guru besar ke-49 di UINSA itu.

Akibat salah input ini, mantan dosen di Faculty of Asian Studies ANU Australia ini akhirnya harus rela mengurus berkas kembali. Mau tidak mau menunggu validasi dari berkas yang dibuat dari awal tersebut. Butuh waktu sekitar 3 tahun bagi mantan ketua PW LP Ma’arif NU Jatim ini untuk bisa menyandang gelar profesor bidang sosiologi pendidikan.

“Semua proses itu saya lakukan dengan penuh romantika, persis seperti permainan roller coaster yang kadang menggembirakan dan kadang pula menegangkan,”  katanya.

Kabar gembira diterima pada awal Januari 2015. Anak mantan penjual petis di Pasar Sidoarjo ini terhitung sejak 1 November 2014 layak bergelar profesor dengan SK Nomor 3755/A4.3/KP/2015, yang ditandatangani Mohamad Nasir, Menristekdikti kala itu.  Kini, gelar mendampingi nama Muzakki semakin panjang. Yakni, Prof Akhmad Muzakki, Grand, SEA, MAg, MPhil, PhD.

Di jenjang sekolah, Muzakki adalah alumnus sekolah madrasah. Mulai dari Madrasah Ibdtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU), MTs Negeri, dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Semuanya di Sidoarjo. Lalu, berlabuh ke IAIN Sunan Ampel hingga jadi tokoh seperti sekarang. Selamat Prof! [JP]

Mas Abu Lepas 89 Calon Jamaah Haji dan Titip Doa Semoga Kota Kediri Semakin Baik dan Sejahtera

Mas Abu Lepas 89 Calon Jamaah Haji dan Titip Doa Semoga Kota Kediri Semakin Baik dan Sejahtera

Kediri  -Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar melepas calon jamaah haji Kota Kediri, Senin (6/6/2022) di Ruang Joyoboyo Balai Kota Kediri. Tahun 2022 calon jamaah haji Kota Kediri sebanyak 89 orang. Terdiri dari 37 laki-laki dan 52 perempuan dengan usia calon jamaah haji termuda 31 tahun dan tertua 64 tahun.

Calon jamaah haji Kota Kediri ini tergabung dalam kloter 8 bersama Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Kediri, dan Kota Surabaya. Rencananya calon jamaah haji akan bertolak dari Asrama Haji pada tanggal 10 Juni dan dijadwalkan kembali ke tanah air pada tanggal 21 Juli.

“Sungguh sangat bahagia panjenengan bisa berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Setelah menunggu bertahun-tahun lalu ditambah dua tahun pandemi. Alhamdulillah panjenengan bisa berangkat,” ujar Abdullah Abu Bakar.

Wali Kota Kediri mengatakan agar calon jamaah haji terus menjaga kesehatan. Memenuhi asupan cairan tubuh sangat dianjurkan agar tidak mengalami dehidrasi. Sebab cuaca di sana cukup panas diperkirakan mencapai 29 hingga 34 derajat. Selain itu, calon jamaah haji juga harus menaati segala peraturan yang telah dibuat oleh kontingen Indonesia di sana.

“Paling penting tolong menolong yang muda harus menolong yang senior. Jangan lupa membawa obat-obatan yang mungkin harus dikonsumsi. Penuhi kebutuhan gizi sebab rangkaian ibadah haji cukup panjang. Saya yakin panjenengan semua mampu,” pesannya.

Abdullah Abu Bakar juga menitipkan pesan kepada calon jamaah haji untuk mendoakan Kota Kediri. Agar ke depan Kota Kediri semakin lebih baik dan sejahtera.

“Selamat jalan dan selamat menunaikan ibadah haji. Semoga berkah, keselamatan dan bimbingan Allah senantiasa mengiringi perjalanan panjenengan. Semoga kembali dengan selamat dan menjadi haji yang mabrur,” pungkasnya.

Sementara itu, kebahagiaan akan segera berangkat menunaikan ibadah haji dirasakan oleh Ahmad Zainuri calon jamaah haji tertua. Untuk dapat berangkat ke tanah suci Mohammad Zaenuri harus menunggu selama 11 tahun.

“Alhamdulillah bisa segera berangkat. Dulu saya mendaftar pada tahun 2011 bersama istri namun istri saya telah terlebih dulu berpulang. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan agar semua berjalan lancar,” ungkap warga Kelurahan Blabak.

Hal senada juga diungkapkan calon jamaah haji termuda Teguh Dwi Santoso dari Kelurahan Ngadirejo. “Alhamdulillah bersyukur bisa berangkat. Saya menggantikan bapak yang sudah almarhum. Semoga berjalan lancar dan kembali ke tanah suci dengan selamat,” ujarnya.

Turut Hadir dalam kegiatan ini Sekretaris Daerah Kota Kediri Bagus Alit, Asisten Administrasi Umum Nur Muhyar, Kepala Kantor Kemenag Kota Kediri Muhdlor, Kepala Bagian Kesra Ahmad Jainudin, KH.Abdul Hamid dan tamu undangan lainnya. [bj]

Bupati Abdul Latif Ucapkan Belasungkawa Atas Meninggalnya Putra Sulung Gubernur Jabar

Bupati Abdul Latif Ucapkan Belasungkawa Atas Meninggalnya Putra Sulung Gubernur Jabar

Nusantara7.com, BANDUNG – Bupati Bangkalan R. Abdul Latif Amin Imron bertakziah ke rumah dinas (rumdin) Gubernur Jawa Barat (Jabar) Mochamad Ridwan Kamil di Kota Bandung kemarin (5/6). Bupati berbelasungkawa atas meninggalnya putra sulung Ridwan Kamil, RK Emmeril Kahn Mumtadz, yang meninggal di Sungai Aaree, Kota Bern, Swiss.

Bupati yang biasa disapa Ra Latif itu menyampaikan, pihaknya berharap jasad Eril –sapaan akrab Emmeril Kahn Mumtadz– segera ditemukan. ”Semoga almarhum Eril diterima amal baiknya,” harapnya kemarin (5/6).

Ra Latif disambut langsung oleh Gubernur Jabar Ridwan Kamil beserta istrinya, Atalia Praratya. Dirinya berharap, keduanya diberi ketabahan atas musibah yang dialami putranya. ”Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan keikhlasan,” tuturnya.

Mantan wakil ketua DPRD itu mengaku sangat salut terhadap sikap tegar yang ditunjukkan gubernur Jabar saat dirinya takziah. Sebab, di tengah kesedihan yang mendalam, gubernur yang biasa dipanggil Kang RK itu menyatakan keinginannya untuk ke Kota Salak.

”Beliau masih sempat menyampaikan memiliki niat untuk berkunjung lagi ke Bangkalan,” ujarnya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bangkalan Agus Sugianto Zein menyampaikan, banyak yang berempati atas meninggalnya Eril. Tidak terkecuali Bupati Ra Latif. Kedatangannya ke Kota Kembang tidak lain untuk memberikan support kepada Gubernur Jabar Kang Emil.

”Kedatangan bupati menunjukkan betapa turut kehilangannya beliau atas meninggalnya Eril, putra Pak Emil. Semoga amal ibadahnya diterima,” ucapnya. jps

Pemkab Bangkalan Antisipasi Wabah PMK Dan  Tidak Ada Rencana Lockdown Pasar Hewan

Pemkab Bangkalan Antisipasi Wabah PMK Dan Tidak Ada Rencana Lockdown Pasar Hewan

Nusantara7.com, Bangkalan – Pemerintah  tidak akan melockdown pasar meski penyebaran wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) kian meluas. Hal itu ditegaskan oleh Dinas Peternakan (Disnak) Bangkalan. 

Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Peternakan Kabupaten  Bangkalan Ali Makki mengungkapkan, hingga saat antisipasi terhadap penyebaran wabah PMK sudah dilakukan , pemerintah juga belum ada inisiatif melakukan lockdown pasar hewan.

Karena Kebijakan lockdown, menurut Makki, selain berdampak pada mata pencaharian, pedagang akan memilih menjual ternak ke kabupaten terdekat.

“Banyak pertimbangan yang harus kita lakukan untuk melakukan lockdown pasar hewan. Salah satunya masalah ekonomi. Selain itu, kalau toh harus melockdown, maka harus serentak di kabupaten lain. Kalau hanya di Bangkalan, maka tidak maksimal juga,” jelasnya.

Berkaca pada kasus yang pertama, sapi suspek PMK dapat diatasi. Sehingga, meski tidak dilakukan lockdown pasar hewan, dapat dilakukan pengobatan pada sapi yang dinyatakan suspek. Pengobatan itu bisa dilakukan, dengan catatan pihak karantina betul-betul bekerja dengan menutup akses masuk hewan ternak.

“Ini membutuhkan sinergitas yang kuat. Sebab jika masuknya terus diperbolehkan, baik yang secara resmi ataupun melalui jalan tikus, maka pengobatan yang kami lakukan akan percuma. Sapi yang diobati sembuh, datang lagi sapi luar, kan tidak menutup kemungkinan akan ada lagi ditularkan sapi yang dari luar,” paparnya.pemk

Bupati Bangkalan Ra Latif  Sediakan Hibah Untuk Karang Taruna

Bupati Bangkalan Ra Latif Sediakan Hibah Untuk Karang Taruna

Nusantara7.com, Bangkalan –  Pemerintah Bangkalan  menginginkan keberadaan Karang Taruna (Kartar) di Kabupaten Bangkalan dapat dirasakan oleh masyarakat. Untuk itu Bupati Bangkalan R Abdul Latif Amin Imron mengungkapkan, tahun ini Pemkab menyediakan anggaran untuk kegiatan pembinaan dan peningkatan kapasitas karang taruna.

Dijelaskan Ra Latif, Keberadaan karang taruna sangat penting di masyarakat terutama untuk penanggulangan masalah-masalah sosial, baik secara preventif, rehabilitatif dalam rangka pencegahan kenakalan remaja, penyalahgunaan obat terlarang (narkoba) bagi remaja.

Ditambahkan Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Bangkalan Wibagio Suharta menyampaikan, dana tersebut berbentuk hibah yang bersumber dari APBD 2022. Nilainya sebesar Rp 100 juta.

“Ini baru pertama kali mendapatkan dana hibah yang diperuntukkan kegiatan pembinaan,” katanya.

Wibagio menginginkan Karang Taruna di Kabupaten Bangkalan dapat dirasakan keberadaanya. Misalnya, bisa membantu masyarakat yang tak mampu dalam pengobatan ke rumah sakit.

“Kita bisa lihat di Kabupaten lain, bisa membiayai masyarakat di sana yang tidak mampu berobat,” ungkapnya.

Wibagio mengatakan dana hibah nanti yang akan mengakses dari Karang Taruna tingkat kabupaten. Lalu, akan dibagikan kepada Karang Taruna ke tingkat kecamatan hingga desa.

“Bisa jadi Karang Taruna kecamatan atau desa mengadakan kegiatan sendiri, atau nanti Karang Taruna Bangkalan mengadakan kegiatan pembinaan, pesertanya dari kecamatan dan desa,” tandasnya. pemk

Umkm Citraland dan Kecamatan di Surabaya Berkolaborasi

Umkm Citraland dan Kecamatan di Surabaya Berkolaborasi

Surabaya-Citraland berkolaborasi dengan empat kecamatan, yakni Lakarsantri, Pakal, Benowo dan Sambikerep menggelar festival bazar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Bundaran G-Walk Surabaya.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, ke depan UMKM di setiap wilayah kecamatan juga akan berkolaborasi dengan investor sekitar. Sehingga ketika ada investor yang memiliki tempat, maka UMKM di wilayah sekitar bisa masuk dan terlibat di dalamnya.
“Karena saya yakin, apa yang dicontohkan Citraland ini akan menjadi gerakan yang luar biasa bagi investor-investor lain yang ada di Kota Surabaya,” ujar Eri Cahyadi, Minggu (5/6/2022).
Menurutnya, bentuk kolaborasi antara investor dengan UMKM tak hanya berupa penyediaan tempat atau melalui festival bazar. Bisa pula melalui penyediaan outlet UMKM di hotel atau mensuplai kebutuhan investor yang bergerak di bidang akomodasi penginapan tersebut.
“Bisa dalam bentuk di hotel atau kebutuhan hotel, semuanya bisa kita lakukan. Dan itu sebenarnya sedang menunggu waktu. Karena kerja sama itu sedang kita lakukan dan kita tinggal memproduksi, menampilkan bersama,” ucapnya.
Eri Cahyadi berharap, warga Surabaya khususnya Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), perekonomian keluarganya bisa lebih meningkat melalui produk UMKM. Dengan begitu, diharapkan pula mereka segera lepas dari status MBR atau pun daftar penerima manfaat bantuan.
“Kita harus mengubah nasib kita. Dengan cara apa? dengan cara memberikan pekerjaan. Ketika kita memberikan pekerjaan, maka pemerintah harus memasarkan tempatnya di mana. Nah, itulah fungsi dari pemerintah,” ujarnya.
Selain dengan produk UMKM, strategi lain yang dilakukan pemkot untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan adalah melalui program padat karya. Implementasi dari program ini salah satunya dengan melibatkan MBR dalam pembuatan produk tas, sepatu hingga seragam untuk kebutuhan sekolah.
“Itu hari ini yang kita lakukan. Dan saya mohon doanya, dengan kekuatan kebersamaan dan sinergi yang kuat inilah saya yakin Surabaya akan berubah betul di akhir tahun ini,” ucap Eri Cahyadi.
Pada tahun 2021, Eri Cahyadi mengakui, belum bisa fokus bekerja menggerakkan ekonomi kerakyatan. Itu lantaran pada tahun lalu, ia lebih fokus menanggulangi pandemi Covid-19. Juga saat awal tahun 2022, dengan munculnya varian Omicron.
“Tapi dengan kekuataan masyarakat, diberikan contoh kegotong-royongan, kita bisa melewatinya,” ujar Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini.
Oleh karenanya, Eri Cahyadi menyatakan, sekarang ini adalah waktunya ekonomi bangkit. Makanya, ia juga mengajak para investor yang ada di Surabaya agar menggandeng UMKM sekitar untuk menggerakan ekonomi kerakyatan.
“Maka dengan ekonomi kerakyatan itu, kita bisa melewati dengan rasa kegotong-royongan yang kita punya,” ucapnya.(li)

Kampung Pandean Tempat Bung Karno Lahir Sekarang Jadi Ikon Baru Surabaya

Kampung Pandean Tempat Bung Karno Lahir Sekarang Jadi Ikon Baru Surabaya

Surabaya – Pandean. Sebuah kampung di Kota Surabaya. Ikut kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng. Dalam beberapa tahun terakhir, nama Kampung Pandean itu semakin dikenal. Sebab, di kampung itulah diyakini Soekarno atau Bung Karno lahir. Tepatnya, di Pandean Gang IV Nomor 40. Bukan di Blitar.

Pandean termasuk kampung lawas di Kota Pahlawan. Dalam beberapa literatur dituliskan, pada masa masyarakat Hindu-Budha, kampung Pandean disebut salah satu sentra pembuat alat-alat peperangan berbahan besi. Di antaranya, keris, tombak, tameng dan sejenisnya. Alat-alat itu untuk memenuhi kebutuhan kerajaan.

Nah, nama Pandean itu konon juga diadopsi dari kata pandai atau pande. Sebuah pekerjaan dalam mengolah logam besi. Lalu, orang Jawa biasa memberikan imbuhan an pada tempat. Akhirnya, menjadi pandean. Dari hasil penelitian Balai Trowulan, di kampung itu juga ditemukan tempat pembakaran (jobong). Nah, keberadaan jobong itu disebut jadi satu penandanya

Bukan hanya makin dikenal. Karena diyakini Bung Karno lahir di satu gang kampung itu, belakangan Pandean juga telah berubah. Jadi destinasi wisata baru. Rumah yang diyakini sebagai tempat Sang Proklamator itu lahir, telah ditetapkan Pemkot Surabaya sebagai cagar budaya (heritage). Wujudnya semula sederhana. Kini, terasa lebih artistik setelah dirombak pemkot.

Upaya untuk meneguhkan Pandean sebagai tempat Sang Putra Fajar—sebutan lain Bung Karno—terus dilakukan. Terutama para kader PDI Perjuangan Kota Surabaya. Setiap Juni, kawasan itu terasa lebih semarak. Sebab, di bulan keenam pada kalender masehi itulah Bung Karno lahir. Tepatnya, pada 6 Juni 1901 atau 122 tahun silam.

Beragam kegiatan telah digelar PDIP Kota Surabaya. Minggu (5/6) sore, menandai peringatan hari lahir Bung Karno, juga dilaksanakan kegiatan santunan yatim piatu. Tempatnya juga di Pandean Gang IV Nomor 40. Hadir dalam acara itu Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP Andreas Hugo Parera, ketua panitia nasional bulan Bung Karno, yang dibentuk DPP PDIP.

Tampak pula Adi Sutarwijono, Ketua DPC PDIP Kota Surabaya yang juga ketua DPRD Kota Surabaya, Sekretaris DPC PDIP Kota Surabaya Baktiono, dan beberapa kader lain. ’’Bersama anak-anak yatim piatu, kita doakan bersama Bung Karno, yang lahir di rumah kecil ini.  Semoga beliau mendapatkan tempat yang mulia, yang terbaik, di sisi Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa,” kata Andreas, memberikan sambutan.

Andreas berharap kampung Pandean, terutama Gang IV, makin terangkat lagi di skala nasional dan internasional. Dengan demikian, makin banyak masyarakat yang berkunjung. Terutama kaum muda, pelajar, mahasiswa, kaum milenial. ’’Lalu, kita menghayati bahwa di kampung Pandean Gang IV inilah titik start atau awal perjalanan hidup Soekarno,” ungkapnya.

Bung Karno, lanjut dia, semasa hidup dulu dikenal dekat dengan kaum muda. Anak-anak generasi penerus. ‘’Kita teladani beliau, kita serap api perjuangan Bung Karno untuk rakyat dan bangsa Indonesia,” lanjutnya.

Anak-anak yatim piatu yang diundang itu berasal dari Yayasan Panti Asuhan Ruqoyah, Kelurahan Peneleh. Mereka juga berasal dari Kampung Pandean atau belakangan sudah akrab disebut sebagai Kampung Soekarno,” ujar Sjukur Amaludin, ketua panitia.

Dalam kesempatan itu, Ketua RW 13 Kelurahan Paneleh Farida menyampaikan, pihaknya berterima kasih atas perhatian PDIP terhadap anak-anak yatim piatu. ’’Terima kasih telah memperhatikan anak-anak kami,” ucap dia.

Pada saat bersamaan, hadir pula Taufik Ismail, Ketua DPC PDIP Karawang, Jawa Barat. Dia bersama rombongan menyempatkan datang ke kampung Pandean. Ingin melihat dari dekat rumah lahir Bung Karno. “Saya bersama kawan-kawan habis dari Blitar, berziarah ke Makam Bung Karno. Lalu, kami ke Surabaya, mengunjungi rumah tempat Bung Karno lahir ini,’’ ujarnya.

Taufik juga berharap, rumah tersebut harus dijaga dan terus dirawat. Sebab, dia menyebut rumah itu menjadi salah satu cikal bakal Indonesia.

Sementara itu, Baktiono menyatakan, masyarakat Surabaya harus bangga karena Bung Karno terlahir di Kota Pahlawan. Dia menyebut, penulisan sejarah pada pemerintahan Orde Baru, Bung Karno disebut lahir di Blitar.

‘’Setelah Orde Baru jatuh, maka ditemukan fakta bahwa Bung Karno lahir di salah satu rumah di Kampung Pandean. Jadi, Bung Karno itu Arek Suroboyo,” kata politikus yang juga ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya itu.

Ada Peran Bambang DH, Peter A. Rohi, dan Tri Rismaharini

Sebelumnya, pada Sabtu (4/6) lalu, komunitas penggiat sejarah Begandring Soerabaia, juga menggelar cangkrukan di Kafe Lodji, Jalan Peneleh. Mereka membahas Bung Karno lahir di Surabaya. “Ngobrol gayeng ini sebagai persiapan kami menyusun buku: Bung Karno Lahir di Surabaya. Dan, persiapan pembuatan film dokumenter Putra Sang Fajar,’’ ungkap Kuncarsono, pemandu acara sekaligus inisiator acara itu.

Kuncar, panggilan akrabnya, menyebut penemuan rumah kelahiran Bung Karno salah satunya atas peran Bambang D.H, saat menjadu Wali Kota Surabaya periode 2002-2010 dan almarhum Peter A. Rohi, wartawan yang kala itu memimpin Soekarno Institute. ’’Kita berutang budi pada Pak Bambang DH dan almarhum Pak Peter A. Rohi. Mereka yang melakukan penyelidikan dan riset tempat lahir Bung Karno di Surabaya,” ujar Kuncar.

Hadir  dalam diskusi itu antara lain Anggota DPR RI Andreas Hugo Parera dan pengurus PDIP dari Kota Surabaya maupun Jatim. Di antaranya, Adi Sutarwijono, anggota DPRD Kota Surabaya Budi Leksono, dan Khusnul Khotimah yang juga menjabat ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya. Lalu,

Whisnu Sakti Buana, mantan Wali Kota  Surabaya dan penyanyi Andre Hehanusa.

‘’Kami mendukung penuh upaya menulis buku dan film dokumenter tentang Soekarno yang lahir di Surabaya. Sebab, masih banyak masyarakat yang mengganggap Bung Karno lahir di Blitar, seperti dinarasikan rezim Orde Baru. Jadi sejarah harus diluruskan, selurus-lurusnya,” kata Adi Sutarwijono.

Dalam kesempatan itu, Bambang D.H. menceritakan, penemuan fakta Soekarno lahir di Surabaya semula dipicu pernyataan almarhum Roeslan Abdulgani, sahabat Bung Karno dan mantan menteri luar negeri. Cak Roes, panggilan akrab Roeslan Abdulgani, juga asli kelahiran Kampung Peneleh.

’’Cak Roes mengatakan pada saya, bahwa Bung Karno lahir di Surabaya. Kemudian Pak Peter A. Roni yang waktu itu melakukan riset dan penelitian, memperkuat dengan data dan fakta, di antaranya berdasar kesaksian data sekunder. Sampai ditemukan rumah kecil di Pandean Gang IV Nomor 40,” ungkap pria yang kini menjadi anggota DPR RI itu.

Semasa Wali Kota Surabaya dijabat Tri Rismaharini, rumah tempat lahir Bung Karno di Pandean tersebut dibeli dari penghuni oleh pemkot. Kunci rumah telah diserahkan ahli waris pada 17 Agustus 2020. Tepat di Hari Kemerdekaan Indonesia. Cangkrukan itu bertambah gayeng dengan alunan suara khas penyanyi Andre Hehanusa dengan lagu Indonesia Tanah Air Beta.

’’Kawasan ini layak menjadi tempat anak-anak muda, kaum milenial, dengan sajian ragam kuliner Nusantara, yang menjadi kesukaan Soekarno. Semoga ini bisa diwujudkan. Merdeka!” kata Andre Hehanusa, yang juga membawakan lagu Kuta Bali. JPS