Jalan Hidup Anak Penjual Petis di Sidoarjo Jadi Rektor UINSA

Jalan Hidup Anak Penjual Petis di Sidoarjo Jadi Rektor UINSA

Surabaya – Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya hari ini (6/6) resmi memiliki nakhoda atau rektor baru periode 2022-2026. Yakni, Prof Akh. Muzakki MAg. Guru besar bidang sosiologi pendidikan itu tidak lain menjabat wakil Sekjen PBNU. Sebelumnya, sekretaris PWNU Jatim.

’’Betul, beliau sudah resmi menjadi rektor UINSA Surabaya,’’ kata Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dihubungi JawaPos.com, Senin (6/6).

Prof Muzakki menggantikan Prof Masdar Hilmy, rektor UINSA sebelumnya. Selain kedua profesor tersebut, dua kandidat lain yang diajukan ke Kementerian Agama (Kemenag) sebagai rektor kampus yang dulu bernama IAIN Sunan Ampel itu adalah Prof Titik Triwulan Tutik dan Prof Zumrotul Mukaffa.

Gelar guru besar diterima Muzakki pada 2015 lalu. Mengutip NU Online, ada sejumlah cerita pilu yang mengiringi perjalanan guru besar termuda di Fakultas Ilmu Sosial Politik tersebut. Dari mulai berkas yang sempat hilang, saran dari banyak kolega bahwa menjadi guru besar adalah takdir dan jangan terburu nafsu, hingga sejumlah godaan lain.

Sekelumit kesulitan tersebut disampaikan Muzakki ketika menyampaikan orasi di auditorium UINSA. “Sulit dan ketatnya aturan menjadi guru besar pasti dirasakan berlipat oleh dosen-dosen yang secara kelembagaan berada di bawah Kementerian Agama atau Kemenag,” kata ayah dua anak kelahiran 1974 ini kala itu.

Secara rinci, suami dari Erna Mawati tersebut menceritakan bahwa untuk meraih gelar profesor para dosen yang berada di Kemendikbud hanya mengalami penilaian jenjang universitas dan Dikti. ‘’Sedangkan bagi yang berasal dari Kemenag harus melewati sekian macam dan tingkatan check point penilaian,” terang peraih gelar Graduate Diploma in Southeast Asian Studies dari Fakultas Asian Studies The Australian National University (ANU) Canberra ini.

Seusai dinyatakan lulus di tingkat universitas, berkas usulan dosen dimaksud dinaikkan ke jenjang check point berikutnya, yakni Diktis Pendis Kemenag. Selesai? Ternyata tidak. Berkas yang ada dinilai oleh sidang dewan guru besar Diktis Pendis Kemenag. Berikutnya, penilaian di Dikti Kemendikbud yang sekarang berubah menjadi Kemendikbudristek.

“Di sini, berkas mengalami dua penilaian yakni penilaian angkta kredit atau PAK oleh sidang dewan guru besar dan penilaian dalam bentuk validasi oleh tim kecil yang lebih dikenal dengan tim validasi atau tim siluman,” ungkap peraih gelar master of philosophy (MPhil) dari ANU ini.

Tim siluman yang dimiliki dan dipekerjakan oleh Dirjen Dikti ini menelisik masuk ke “bilik-bilik akademik” sekecil dan sesempit apapun. “Konon, tim siluman ini diberi tugas khusus oleh Dirjen Dikti untuk melakukan validasi dokumen calon guru besar,” terang alumnus program PhD di School of History, Phi losophy, Religion and Classic, the University of Queensland Australia ini.

Belum lagi kesabarannya diuji karena pada pertengahan 2014 ternyata berkas untuk keperluan mengurus gelar profesor itu dinyatakan hilang. Mengapa bisa hilang? “Kemungkinan paling besar ada kaitannya dengan dampak bocor atap dan pindahan kantor sebagaimana disampaikan staf Diktis Jakarta,” kenangnya

Sebab, saat itu menjelang akhir 2013, Diktis yang berkantor di lantai 8 Kantor Kemang RI, di Lapangan Banteng, Jakarta, sedang dilanda bocor atap yang cukup hebat akibat hujan lebat. “Nah, saat itu juga merupakan momen-momen kepindahan kantor Diktis dari lantai 8 ke lantai 7 yang sudah direncanakan sebelumnya,” terangnya.

Dan di titik inilah awal kerumitan terjadi. Dengan sangat terpaksa, seluruh berkas diurus dari awal. Celakanya pihak Diktis hanya memberikan waktu dua minggu untuk menyelesaikan copy dokumen yang hilang tersebut. Bisa dibayangkan, kesulitan mengurus berkas di level universitas di Surabaya hingga ke Jakarta.

Namun, bersyukur akhirnya tantangan ini bisa terlewati. Apakah urusan sudah beres? Ternyata tidak. Ujian lain menghadang. Muzakki mendapat kabar bahwa staf Dikti salah menginput penilaian berkasnya. “Yang  awalnya untuk keperluan guru besar, ternyata beralih menjadi lektor kepala,” kata guru besar ke-49 di UINSA itu.

Akibat salah input ini, mantan dosen di Faculty of Asian Studies ANU Australia ini akhirnya harus rela mengurus berkas kembali. Mau tidak mau menunggu validasi dari berkas yang dibuat dari awal tersebut. Butuh waktu sekitar 3 tahun bagi mantan ketua PW LP Ma’arif NU Jatim ini untuk bisa menyandang gelar profesor bidang sosiologi pendidikan.

“Semua proses itu saya lakukan dengan penuh romantika, persis seperti permainan roller coaster yang kadang menggembirakan dan kadang pula menegangkan,”  katanya.

Kabar gembira diterima pada awal Januari 2015. Anak mantan penjual petis di Pasar Sidoarjo ini terhitung sejak 1 November 2014 layak bergelar profesor dengan SK Nomor 3755/A4.3/KP/2015, yang ditandatangani Mohamad Nasir, Menristekdikti kala itu.  Kini, gelar mendampingi nama Muzakki semakin panjang. Yakni, Prof Akhmad Muzakki, Grand, SEA, MAg, MPhil, PhD.

Di jenjang sekolah, Muzakki adalah alumnus sekolah madrasah. Mulai dari Madrasah Ibdtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU), MTs Negeri, dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Semuanya di Sidoarjo. Lalu, berlabuh ke IAIN Sunan Ampel hingga jadi tokoh seperti sekarang. Selamat Prof! [JP]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *