SWRO untuk 3 Daerah Layak Kembangkan

SWRO untuk 3 Daerah Layak Kembangkan

SURABAYA – Tiga daerah di Pantai Utara (Pantura) Jatim, yaitu Tuban, Lamongan dan Gresik dinilai layak kembangkan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau lebih akrab disebut instalasi pengelolaan air laut sebagai sumber air baku penyedian air minum. Pasalnya selain letaknya yang strategis dengan laut, cara ini sangat cocok dikembangkan menjadi salah satu Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di daerahnya seperti yang telah didirikan di Pulau Mandangin, Sampang.

Kepala Satuan Kerja Pengembangan SPAM kawasan khusus Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Irman Jaya mengatakan, capaian bagus teknologi SWRO di Pulau Mandangin Sampang sejak 2012 lalu, seharusnya menjadi percontohan bagi daerah lain untuk ikut mengembangkan teknologi serupa. Jadi tidak perlu lagi mengandalkan air olahan PDAM semata yang bersumber dari sungai.

“Kalau kita lihat penerapannya di pulau Mandangin itu bagus, mampu menyuplai air bersih layak minum bagi masyarakat sekitar pesisir itu, daerah seperti Tuban, Lamongan dan Gresik pantas untuk meniru semacam ini,” ujarnya, Selasa (29/10) di Surabaya.

Menurutnya dalam penerapan SWRO itu, ada beberapa batasan kriteria agar air yang dihasilkan itu benar-benar layak untuk minum, Irman menjelaskan kadar salinitas air laut yang diukur dengan Parameter Total Desolved Solid (TDS) rata-rata berkisar 35.000 mg/lt harus bisa diturunkan hingga layak dikonsumsi masyarakat dengan standar air minum yang diperbolehkan sebesar 500 mg/lt.

“Kalau kita bandingkan dengan kadar TDS air minum dalam kemasan yang banyak diperjual belikan, kadarnya berkisar antara 120-400 mg/lt, artinya dengan batas 500 mg/lt itu masih dalam batas aman,” terangnya.

Irman mencontohkan, kapasitas SPAM pulau Mandangin saat ini memang terbilang kecil, hanya 5 liter/det atau setara 432.000 liter/harinya, dengan jumlah penduduk sekitar 200 ribu jiwa, jumlah yang didapat memang kecil 21,6 liter/orang/hari.

“Bila diterapkan bagi daerah sekitar Pantura, kapasitas sebesar ini masih cocok setidaknya untuk menyuplai 20 desa,” kata pria yang juga menjabat sebagai ikatan ahli teknik penyehatan Indonesia (IATPI) itu.

Terkait dana yang dibutuhkan untuk membangun SPAM di kawasan Pantura, Irman mengaku nilainya memang tidaklah kecil, namun manfaatnya cukup besar terlebih ketika musim kemarau tiba. “Saya rasa biayanya lebih kecil dari pada harus menyuplai air melalui tangki-tangki tiap harinya, seperti saat kemarau seperti sekarang. Pemda kan bisa bekerjasama dengan para investor,” tegasnya. sp

One Comment

  1. Saya perlu advisor ahli dan berpengalaman dalam bidang SWRO. Jika memungkinkan mohon informasinya.

    Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *