Partai Poros Tengah Sulit Berkoalisi

Partai Poros Tengah Sulit Berkoalisi

Jakarta – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis kemungkinan lahirnya kekuatan poros tengah jilid II dari kelompok nasionalis dan Islam, Minggu (3/11). Namun lima partai papan menengah akan sulit membentuk koalisi menjadi partai poros tengah karena ada persaingan kuat antara tokoh partai tersebutAdapun lima partai tersebut yaitu, Partai Demokrat, Gerindra, PAN, Hanura, dan NasDem.

Peneliti LSI Adrian Sofa mengatakan kelima partai tersebut bakal menentukan calon presiden ketiga setelah Golkar dan PDIP lolos parliamentary treshold dan memperoleh 25% suara sah nasional.

“Yang justru akan terjadi adalah tarik menarik antarpartai ini dalam merebut koalisi dan memastikan satu tiket capres tersisa. Partai yang di pemilu legislatif 2014, nantinya berada di urutan ketiga yang paling mungkin memimpin koalisi untuk tiket capres yang ke tiga,” jelas Adrian di Kantor LSI Rawamangun, Minggu (3/11).
Mengenai calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) yang diutamakan, Adrian menyebut ada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Rajasa. Namun poros tengah dapat terbentuk jika, Partai Demokrat tidak mempunyai koalisi dan berada di bawah 15%.
“Poros ini tetap masih menjadi poros wacana karena hanya akan terwujud jika Partai Demokrat tidak memperoleh mitra koalisi dan tiket capres, karena perolehan suaranya dibawah 15%,” katanya.

Jika hal itu terjadi, tambah Adrian, maka suara partai lainnya dapat diimbangi di poros tengah. Sehingga kemungkinan partai menengah untuk mencalonkan capres semakin besar. “Jika Partai Demokrat gagal meraih suara lebih dari 15%, pertarungan tiket capres 2014 dengan partai politik papan tengah lainnya makin imbang,” ujarnya.
Dalam survei LSI, Hatta Rajasa merupakan calon wakil presiden paling kuat yang berasal dari tokoh Islam. Hatta mengantongi suara 31,3 persen suara dari 1.200 responden. LSI menjabarkan cawapres dari tokoh Islam berikutnya adalah Yusril Ihza Mahendra (15,2 persen), Muhaimin Iskandar (11,8 persen), Suryadharma Ali (10,7 persen), dan Anis Matta (7,5 persen).
“Tapi, kemungkinan hadirnya capres dan cawapres ideal nasional-Islam dari poros tengah seperti paket Jokowi-Hatta yang masih wacana,” kata Adrian Sopa.

Survei ini dilaksanakan Oktober 2013 kepada 1.200 responden di 33 provinsi di Indonesia. Metode yang dipakai LSI dalam survei ini adalah multistage random sampling dengan estimasi kesalahan 2,9 persen.
Sementara tokoh nasionalis terkuat di luar Megawati dan Aburizal Bakrie, ada nama Joko Widodo yang kini menjabat Gubernur DKI Jakarta. Dalam survei itu, Jokowi mendapat 38,3 persen suara, Prabowo 11,1 persen dan Wiranto 10 persen.

Berkaca dari hasil survei itu, pasangan Joko Widodo dan Hatta Rajasa akan menjadi pasangan calon presiden dan wakil presiden yang kuat di kalangan poros tengah. Dengan catatan, PDI Perjuangan tetap mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden.
Asumsi ini, imbuh Adrian, didapat dari capres dan cawapres poros tengah adalah kombinasi tokoh nasionalis dan Islam. Kombinasi ini, sesuai dengan karakter dan spektrum ideologi dari 10 partai papan tengah, yaitu lima partai nasionaliis (Demokrat, Gerindra, Hanura, Nasdem dan PKPI) dan lima partai Islam (PAN, PKS, PPP, PKB dan PBB).
“Capres berasal dari tokoh nasionalis dan cawapres dari tokoh Islam karena tokoh nasionalis lebih kuat pamor dan dukungannya dibanding tokoh Islam,” kata Adrian di kantornya, Jakarta Timur.spo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *