Said Agil Husain: Dibutuhkan Iptek Memahami Sepilis

Said Agil Husain: Dibutuhkan Iptek Memahami Sepilis

Bintang Pos, Surabaya – Indonesia tanpa SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme) merupakan tema yang diangkat pada Kongres IV Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (IMABA) di auditorium PKP-RI Pamekasan, Sabtu (15/06/2013).
Acara yang dikemas dalam orasi kebangsaan yang disampaikan oleh salah satu guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Said Agil Husain Al-Munawar, mengupas tuntas keberagaman dan isu sekuler serta liberal di Indonesia.

Mengawali orasinya, ia menyampaikan perpecahan yang terjadi saat ini dikarenakan Ukhuwah Islamiyah tidak terwujud dan hanya dijadikan sekedar konsep tanpa aplikasi yang jelas. “Perlu kiranya untuk senantiasa melakukan komunikasi. Hal itu memberikan solusi yang jelas terhadap terjadi pluralisme dan liberalisme di negeri ini,” kata Said Agil.

Mantan Menteri Agama Kabinet Gotong Royong itu menambahkan, gerakan sepilis yang pada dasarnya memberikan pemahaman dan penafsiran ulang dan pemahaman baru. Sehingga muncul istilah-istilah tentang sepilis di Indonesia. “Orang yang belum pernah membaca hal itu dianggap sesuatu yang baru dan meresahkan. Itu memberikan gambaran tentang kurangnya kita membaca, kurangnya kita memahami pada teks-teks al-Qur’an yang universal,” imbuhnya.

Berbicara perbedaan dalam Islam sebenarnya tidak ada masalah. Konteks nash dan koredornya sudah nyata dan jelas. “Sekuler merupakan pemikiran pertama yang ingin memisahkan antara agama dengan negara. Supaya ada gap (pemisah). Dan ini cara-cara yang mereka lakukan untuk mengacau,” ungkapnya.

Pluralisme atau aliran kemajemukan, sebatas pandangan dan persepsi manusia. Hal itu memunculkan istilah kita satu, dan kita sama. Dalam Islam dikenal dengan ukhuwah basyariyah (insaniyah). “Sementara yang harus diingat. Intern kita keimanan dan keyakinan. Agama sama menurut pemikiran manusia tapi menurut Allah tidak,” jelas guru besar UIN dan IAIN di lingkungan Kementerian Agama itu.

Lebih lanjut dijelaskan tentang liberalisme, yang ia anggap sebagai kajian keseharian dan dibentuk dari perspektif yang unik. Seperti emansipasi wanita. Gerakan yang dianggap kebablasan sampai menuntut hal yang tidak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.

Hal lain yang juga ia sayangkan, dipojokkannya Islam sebagai agama yang senantiasa melanggar dan tidak sesuai dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Seperti hukum qisash bagi pelaku pembunuhan, potong tangan bagi para pencuri, dan lain sebagainya. “Disini kita benar-benar harus memulai dari awal dan memberikan pemahaman yang jelas tentang Islam yang sebenarnya,” lanjutnya.

Solusi dalam menyikapi persoalan tersebut, sangat diperlukan pemahaman dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) serta keimanan dan ketakwaan (Iptak). Sehingga bisa menerima segala macam persoalan yang sedemikian kompleks. “Dengan itu kita bisa memilah dan memilih, mana yang dianggap benar dan mana yang tidak seharusnya kita ambil,” pungkasnya. (bjt)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *