BP2MI : Ingatkan PMI Hati-hati Bermedsos Bisa Ancam Karir

BP2MI : Ingatkan PMI Hati-hati Bermedsos Bisa Ancam Karir

Nusantara7.com, Seluruh masyarakat diingatkan untuk menjaga etika dalam kegiatan bermedia sosial (medsos). Termasuk untuk pekerja migran Indonesia (PMI) yang sedang bekerja di luar negeri. Jika tidak hati-hati, pelanggaran dalam bermedsos bisa mengancam karir para PMI.

Himbauan supaya para PMI bijak bermedsos disampaikan Kepala Pusat Pengembangan SDM Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Ahnas.

“Jangan sampai menyebarkan berita bohong atau hoax,” kata Ahnas dalam webinar Literasi Digital Penggunaan Medsos Bagi PMI Jumat (17/12). Acara ini digelar Pusat Pengelolaan Mahasiswa Luar Negeri (PPMLN) Universitas Terbuka menyambut International Migrant Day 2021.

Lebih lanjut Ahnas mengatakan, para PMI memang perlu mendapatkan materi atau pembekalan soal etika bermedsos. Dia tidak ingin ada PMI yang terlibat dalam kegiatan menciptakan keonaran melalui medsos. Baik itu terkait kondisi di negara tempat mereka bekerja maupun kondisi di dalam negeri Indonesia.

“Saksi akibat pelanggaran bermedsos bisa kurungan sampai denda. Karena itu, bermedsos harus membawa dampak baik kepada kita,” katanya

Ahnas juga berpesan beberapa hal untuk menjaga etika bermedsos. Karena itu sebaiknya para pekerja migran jangan terlalu mudah percaya dengan info yang beredar. Kemudian harus bisa menyaring mana informasi yang benar dan salah.

Tidak kalah pentingnya, Ahnas mengingatkan para pekerja migran jangan sampai menyebar informasi data pribadi di medsos.

“Mari bermedsos sebaik-baiknya. Supaya tidak merugikan diri sendiri atau orang lain,” pungkasnya.

Kepala PPMLN Universitas Terbuka Pardamean Daulay juga mengingatkan agar para PMI, khususnya yang juga mahasiswa Universitas Terbuka harus menjaga etika digital. Dia mengingatkan bahwa sering kali jejak digital sulit dihapus.

“Bahkan adanya jejak digital bisa jadi penghalang atau bahkan menghancurkan karir kita,” tuturnya.

Dia mencontohkan beberapa waktu lalu ada PMI di Singapura yang berurusan dengan hukum, akibat kurang bijak dalam bermedsos. Dia tidak ingin kasus seperti ini kembali terulang. Baik di Singapura, maupun negara lainnya.

Untuk itu Pardamean, mengatakan pembekalan etika bermedsos tersebut sangat penting. Dia menjelaskan saat ini ada sekitar 2.200 orang PMI yang juga mahasiswa Universitas Terbuka di sejumlah negara. Mulai dari kawasan Asia, Eropa, dan lainnya.

(jwp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *