23 Balita Sumenep Gizi Buruk, Tak Hanya Serang Keluarga Miskin

23 Balita Sumenep Gizi Buruk, Tak Hanya Serang Keluarga Miskin

Bintang Pos, Surabaya – Sebanyak 23 balita di Kabupaten Sumenep ditemukan mengalami gizi buruk. Puluhan balita gizi buruk tersebut tersebar di 11 kecamatan.

“Dari 23 kasus, 18 diantaranya merupakan kasus lama atau temuan tahun sebelumnya. Semuanya sudah ditangani. Dua anak sembuh, 1 anak meninggal, dan 20 dirawat intensif,” kata Bupati Sumenep, A. Busyro Karim, saat ‘Monitoring dan Pembinaan Penanggulangan Gizi Buruk’, yang dipusatkan di Pendopo Agung, Rabu (03/03/13).

Berdasarkan data, temuan gizi buruk di Sumenep setiap tahun menunjukkan penurunan. Tahun 2011 ditemukan 51 kasus gizi buruk, kemudian 2012 turun menjadi 26 kasus, dan tahun 2013 ditekan menjadi 23 kasus.

Busyro memaparkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya gizi buruk. Diantaranya, rendahnya pengetahuan orang tua yang menyebabkan pola asuh yang salah. “Selain itu, gizi buruk juga disebabkan karena sakit, kemudian kemiskinan,” ujarnya.

Namun Busyro menandaskan, dari hasil monitoring dan evaluasi di lapangan, kasus gizi buruk tidak hanya terjadi pada masyarakat miskin. Sebanyak 17,4 persen penderita gizi buruk justru berasal dari keluarga mampu.

“Kami pernah berkunjung langsung ke Kalianget. Seorang balita mengalami gizi buruk, bukan karena kemiskinan, namun karena bawaan atau kelainan sejak lahir. Balita ini tidak punya langit-langit, sehingga sulit untuk menelan makanan. Mau dioperasi juga tidak bisa, karena balita ini terlalu kecil,” ungkapnya.

Lebih lanjut Busyro memaparkan, pasca ditemukannya balita penderita gizi buruk Pemkab Sumenep langsung melakukan langkah pro aktif, diantaranya pemantauan dan penyuluhan kesehatan sejak ibu hamil. “Karena gizi anak itu ditentukan sejak kondisi dalam kandungan. Makanya perlu juga diperhatikan asupan gizi sejak dini. Kalau sudah terjadi gizi buruk, maka Pemberian makanan tambahan, vitamin A dosis tinggi, kemudian tata laksana gizi buruk, dan penanganan oleh tim medis,” terangnya.

Ia menambahkan, penanganan gizi buruk merupakan tanggungjawab semua pihak. Pemkab Sumenep juga menjalin kemitraan dengan organisasi kemasyarakatan, untuk penanganan gizi buruk. “Ada banyak organisasi kemasyarakatan yang bisa kita ajak bermitra, seperti fatayat, muslimat, atau banyak juga lain. Peran semua pihak sangat diperlukan untuk menekan angka gizi buruk,” ungkapnya. (brj-kba)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *