Tina Andrean Angkat Cheongsam untuk Tren Busana Pengantin 2013

Tina Andrean Angkat Cheongsam untuk Tren Busana Pengantin 2013

Bintang Pos, Jakarta – Selain kimono dari Jepang, cheongsam merupakan salah satu busana tradisional yang sudah mendunia dan banyak dimodifikasi menjadi berbagai macam model. Dari sekadar busana sehari-hari yang dikenakan para wanita China pada era 1800-an, hingga kini dikenakan berbagai kalangan mulai dari orang umum hingga selebriti.


Tina Andrean mencoba mengangkat sejarah cheongsam tersebut ke dalam koleksi busana terbarunya, yang bertajuk ‘The Emperor’. Terdiri dari gaun pengantin dan malam, istri dari pengusaha dan penata rambut ternama Johnny Andrean ini memperlihatkan berbagai macam modifikasi cheongsam mulai dari model tradisional hingga modern.

“Gaun cheongsam dulu dipakai sehari-hari untuk kerja. Belahan paha tinggi membuat mereka bergerak dengan leluasa,” papar Tina sebelum memulai peragaan di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (3/05/2013).

Menurut wanita yang sudah 28 tahun berkiprah sebagai desainer busana pengantin ini, cheongsam memiliki daya tarik tersendiri karena siluet yang pas badan. Potongannya membuat ilusi dada lebih tinggi dan perut terlihat lebih rata. Tina pun memprediksi tren cheongsam akan terus bergerak. Semakin meriah dan modis dengan berbagai variasi bahan dan motif.

Dalam koleksinya sendiri yang berjumlah 36 look, banyak menampilkan permainan neckline. Peragaan dibuka dengan gaun cheongsam tradisional yang simple dengan detail lace. Dilanjutkan dress berpotongan mermaid, A-line dan cheongsam yang dipadu rok ruffle.

Peragaan berlanjut, busana yang ditampilkan pun semakin kental perpaduan western dan eastern. Masih tetap dengan kerah cheongsam, namun modifikasi banyak di bagian rok. Seperti ballgown, semi A-line, mermaid, potongan asimetris serta detail tumpuk dari bahan tulle dan organza. Beberapa gaun juga dilengkapi bolero yang bisa dipasang dan dilepas sehingga bisa tampil dengan dua gaya berbeda.

Tina tidak terlalu banyak menggunakan payet dan kristal yang bling-bling. Penekanannya lebih kepada detail pengerjaan tangan yang lebih rumit. Misalnya teknik origami, ruffle, bordir dan aplikasi bunga.

Warna yang digunakan pun tidak melulu putih. Sesuai tradisi China, Tina juga menampilkan gaun pengantin merah dalam bentuk cheongsam tradisional sampai ballgown dengan volume dan detail dramatis. Ia juga menawarkan gaun pengantin warna lainnya seperti pink dan peach dengan sentuhan emas.

“Cheongsam sekarang sudah berubah bentuk. Supaya lebih dapat dipakai oleh anak-anak muda kita. Kalau di-touch dengan gaya modern akan jadi tren yang sangat menarik. Kalau kebaya bisa jadi tren kenapa choengsam tidak?” ucap Tina di akhir pembicaraan.(wol-kba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *