Solusi Intoleransi Kandidat Konvensi Demokrat, dari Kesejahteraan, Keamanan, hingga Pancasila

Solusi Intoleransi Kandidat Konvensi Demokrat, dari Kesejahteraan, Keamanan, hingga Pancasila

JAKARTA — Persoalan intoleransi yang muncul di masyarakat menjadi salah satu pertanyaan yang diajukan dalam debat kandidat Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat, Jumat (24/1/2014). Isu ini dinilai rawan muncul mengingat beragamnya suku dan agama di Indonesia.


Mendapat kesempatan pertama, Hayono Isman mengangkat kembali arti Pancasila. Menurut dia, permasalahan intoleransi dapat diatasi jika Indonesia menjunjung tinggi Pancasila. “Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila jadi yang terbaik untuk mengatasi masalah ini,” ujarnya.

Sementara itu, Pramono Edhie Wibowo mengatakan pentingnya memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat. Menurut dia, aksi intoleransi terjadi karena ada masyarakat yang merasa tak terayomi dengan baik sehingga rasa aman dan nyaman tak muncul.

Untuk mengatasi masalah ini, kata Pramono, TNI dan Polri harus turun tangan. Tentara dan polisi harus banyak dikuatkan. “Kita harus kuat, hebat. Kita harus ditakuti. Kalau kita kuat dan hebat kita akan ditakuti orang lain supaya tidak sembarangan kepada kita,” ujar mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat tersebut.

Adapun Ali Masykur Musa menanggapi isu tersebut dengan berpendapat, saat ini toleransi sudah tak lagi menjadi prinsip kebersamaan masyarakat. Menurut dia, telah terjadi pergeseran budaya di Indonesia dari waktu ke waktu. “Dulu sering orang mengatakan Indonesia adalah bangsa yang ramah. Itu dulu. Sekarang bukan ramah, tapi marah,” kata Ali.

Sementara itu, Dahlan Iskan mengatakan masyarakat Indonesia sekarang mudah marah karena kesejahteraannya tak terpenuhi. Menurut dia, untuk mengatasi masalah intoleransi maka masyarakat harus disejahterakan terlebih dahulu. “Jadi, intoleransi ini masalahnya meluas, bukan lagi cuma masalah intoleransi itu sendiri, tapi juga ke masalah lain seperti kesejahteraan,” ujar Dahlan.

Irman Gusman membahas kembali perlunya Pancasila. Menurut dia, Indonesia harus membangun sebuah masyarakat baru yang menerapkan demokrasi, tetapi tetap harus berdasarkan pada Pancasila. “Karena itu yang diamanatkan founding fathers. Kita harus menjaga kearifan lokal kita,” kata dia.

Putaran kedua debat kandidat Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat berlangsung di Sumatera Selatan dibagi dalam dua sesi. Kelima kandidat di atas menjadi peserta debat sesi pertama di kota kedua dari 11 kota yang direncanakan menjadi tuan rumah tahapan konvensi itu.(kmp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *