Produksi Kedelai Jatim Belum Mencukupi Kebutuhan Masyarakat

Produksi Kedelai Jatim Belum Mencukupi Kebutuhan Masyarakat

Bintang Pos, Surabaya – Produksi kedelai di Jawa Timur sampai sekarang belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat provinsi ini sekitar 420 ribu ton per tahun.

“Sementara, jumlah produksi kedelai yang kami catat selama tahun 2012 hanya terealisasi sebanyak 361 ribu,” kata Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jatim, Achmad Nurfalakhi, di Surabaya, Senin.

Untuk mengantisipasi kondisi itu, kata dia, Dinas Pertanian Jatim melakukan serangkaian upaya untuk meningkatkan produksi kedelai pada tahun ini. Dengan demikian, dapat mengurangi selisih angka permintaan kedelai masyarakat dengan stok yang tersedia.

“Kami optimistis melalui sejumlah upaya tersebut maka produksi kedelai Jatim meningkat menjadi 370 ribu ton pada tahun 2013,” ujarnya.

Walau begitu, dia khawatir, kekurangan stok kedelai akan terjadi di Jatim meskipun Dinas Pertanian Jatim terus mendorong petani di wilayah kerjanya untuk merealisasi target produksi tahun ini.

“Kalau target produksi kedelai terwujud 370 ribu ton sedangkan kebutuhannya mencapai 420 ribu ton, stok di Jatim kurang 50 ribu ton,” tegasnya.

Di sisi lain, menurut dia, pihaknya memberi tanggapan positif kepada Bulog menyusul dikeluarkannya regulasi tentang Harga Pokok Pembelian (HPP) kedelai.

“Apalagi sesuai aturan itu harga kedelai ditetapkan Rp7.000 perkilogram. Kami yakin, ketentuan ini sekaligus dapat meningkatkan minat petani untuk menanam kedelai,” katanya.

Bahkan, sebut dia, pada masa mendatang Jatim maupun pasar kedelai nasional tidak akan mengalami kekurangan stok komoditas tersebut. Selain itu, mampu membantu pemerintah agar tidak mendatangkan kedelai impor.

“Mengenai kondisi sekarang, kami sangat prihatin dengan besarnya ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor mengingat kian menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Sementara, segala transaksi pembayaran barang atau bahan baku impor selalu berpatokan dengan nilai tukar dolar AS,” katanya.

Akibatnya, beberapa waktu lalu masyarakat di Tanah Air terutama mereka yang menggemari makanan dari bahan utama kedelai seperti tempe dan tahu semakin susah mendapatkannya.

“Kalaupun ada, harganya mahal dan ukurannya lebih kecil dibandingkan normal,” katanya.(ant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *