Masyarakat Jatim Tak Boleh Miskin di Daerahnya!

Masyarakat Jatim Tak Boleh Miskin di Daerahnya!

Bintang Pos, Surabaya– Madura terbelakang? Madura menjadi masyarakat kelas kedua? Jangan lagi itu terjadi, mana kala pemimpin baru di Jawa Timur yang berasal dari Pulau Garam dipercaya memimpin 37 juta jiwa penduduk Jawa Timur. MH Said Abdullah siap untuk menjadikan masyarakat Madura makmur, tenteram dan damai di rumahnya sendiri.
Nama MH Said Abdullah bagi masyarakat Madura dimanapun berada, sudah tidak asing lagi. Pria kelahiran Sumenep 22 Oktober 1962 ini adalah politisi sejati dan aktif sebagai anggota DPR RI dapil Madura. Dua periode menjadi wakil rakyat di Senayan, sosok bersahaja ini tidak lelah memperjuangkan nasib masyarakat Madura, bukan hanya yang tinggal di Madura tapi yang berada di manapun jua.

Semangat perjuangannya semakin berkobar manakala dia dipercaya oleh partai yang selama ini dinaunginya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk memimpin Jawa Timur bersama dengan Bambang Dwi Hartono (BDH). Adrenalin Said Abdullah semakin membara. Perjuangannya membela suku dan daerah asalnya akan semakin nyata jika dia menjadi pemimpin di provinsi di mana Madura berada di dalamnya. “Masyarakat Madura tidak boleh miskin di daerah asalnya. Madura harus makmur dan maju,” tandanya.

Tidak berlebihan jika putra Madura yang lahir dari pasangan (alm) Fatimah Gauzan dan Abdullah Syekhan Baqraf ini mengapresiasi partai berlogo Kepala Banteng dengan Moncong Putih itu yang tekad mempercayakannya untuk menjadi pasangan Bambang Dwi Hartono (BDH) untuk maju dalam pertarungan sengit menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur.

Bagi Said Abdullah yang pengagum berat sosok Bung Karno, inilah sebuah penghargaan besar bukan hanya bagi dirinya tapi bagi masyarakat Madura. Karena Madura dipercaya untuk bisa tampil di depan. Karena setelah tahun 1977 setelah eranya Muhammad Noer yang sudah lama pemimpin Jatim, Madura tidak lagi tampil di depan. “Sekaranglah saatnya. Madura harus berada di depan. Madura harus menjadi pemimpin di daerahnya. Hanya PDIP yang memberikan kesempatan bagi masyarakat Madura untuk bisa menjadi pemimpin di daerahnya,” tegasnya.

Tidak berlebihan jika anggota Komisi VIII DPR RI ini berharap jika masyarakat Madura untuk bisa berpikir cerdas untuk mementukan nasibnya ke depan. “Nasib masyarakat Madura berada di tangan masyarakat Madura sendiri. Mereka harus cerdas memilih pemimpin. Pilihlah yang bisa memperjuangkan nasib, keinginan serta masa depan Madura. Yang mengerti semua itu hanyalah dia yang berasal dari Madura,” tandasnya.

Said Abdullah selama ini memang dikenal sebagai sosok pribadi yang vokal. Vokal dalam arti memperjuangkan hak-hak rakyat kecil. Bukan hanya masyarakat dimana dia berasal namun seluruh rakyat Indonesia. Karena ketika dia dipercaya untuk duduk sebagai wakil rakyat di Senayan, dia juga harus memperjuangkan nasib seluruh rakyat Indonesia.

Said adalah sosok yang non diskriminatif, sosok yang jempol. Dalam bahasa Madura sosok yang jhejhek, ekhlas, masamporna, parjhuga, open dan lalampanna. Bagi Said nantinya ketika dia dipercaya memimpin Jawa Timur mendampingi Bambang Dwi Hartono, dia pun akan memperjuangkan seluruh nasib rakyat Jawa Timur tanpa terkecuali, tanpa memandang suku, etnis, agama dan ras. Karena Jawa Timur yang merupakan provinsi terbesar kedua di Indonesia terdiri dari berbagai macam masyarakat dengan suku, etnis, agama dan ras berbeda. Jawa Timur adalah provinsi dengan heterogenitas.

Heterogenitas merupakan fakta yang tidak terbantahkan tentang Indonesia. Para Founding Fathers membangun negeri ini di atas keberagaman suku, kultur, agama, bahasa, ideologi politik dan sebagainya. Bangsa kita terdiri dari puluhan ribu pulau yang dihuni oleh suku-suku yang beragam. Indonesia berada di tengah masyarakat dunia sebagai satu bangsa yang sangat majemuk.

Konflik-konflik dan kekerasan-kekerasan berbau primordial yang merebak di sejumlah kawasan di tanah air sejak paruh kedua tahun 1990-an memperlihatkan betapa heterogenitas bangsa Indonesia mudah dibelokkan oleh kelompok-kelompok tertentu menjadi kekuatan destruktif. Kerusuhan-kerusuhan rasial yang terjadi di Kalimantan, Ambon, Maluku, Poso serta beberapa kota di Sumatera dan Jawa, termasuk Jakarta menyisakan luka parah (fisik dan psikogis) yang membutuhkan proses panjang untuk menyembuhkannya.

Bagaimana membangun kerukunan dan perdamaian di atas heterogenitas masyarakat Indonesia? Jawabannya hanya satu: Indonesia membutuhkan manusia pendobrak (prime mover), yaitu orang yang bisa mendorong perubahan menuju tataran hidup bersama yang lebih baik, orang mampu berpikir dan hidup lintas batas agama, suku, adat istiadat, ideologi politik serta berbagai label sosial lainnya.

Said Abdullah adalah salah seorang manusia prime mover yang bisa menerobos tembok-tembok primordial. Dia hadir di tengah masyarakat sebagai seorang tokoh yang memiliki visi yang kuat tentang Indonesia yang satu, utuh dan  damai. Dia berjuang lintas batas demi kepentingan bersama tanpa memandang latar belakang sosial, budaya dan politik. Dia berada di atas semua kepentingan politik. Dia berjuang untuk keadilan, kerukunan dan kesejateraan semua orang. MH Said Abdullah tampil sebagai tipe manusia  multikultural, yang bisa hidup secara berdampingan secara damai dan saling menghormati di atas fakta keserbaragaman kondisi sosial, politik dan ekonomi bangsa Indonesia. Kehadirannya di panggung politik Indonesia ibarat senyala api di tengah kegelapan, yang tidak pernah padam oleh terpaan badai.

Said Abdullah adalah sosok politisi yang memiliki visi yang kuat tentang Indonesia yang rukun dan damai. Dia memiliki kepedulian yang besar terhadap berbagai bentuk ketidakadilan yang menjalar di tengah masyarakat. Dia, misalnya, berbicara lantang ketika menangkap ketidakberesan dalam penyelenggaraan haji. Dia terlibat sangat intens dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan yang lintas batas. Dia bergaul dengan siapa saja tanpa memandang keserbaragaman latarbelakang. Cara bicaranya yang santun dan ramah membuatnya dekat dengan semua orang.

MH Said Abdullah yang nasionalis adalah wakil rakyat dari daerah pemilihan XI Madura, Jawa Timur.  Kini Said tercatat sebagai salah seorang anggota Komisi VIII DPR RI. Pria kelahiran Sumenep ini punya cerita panjang dalam hidupnya.

Said menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Sumenep. Pendidikan tingkat dasar diselesaikan di Sumenep. Kemudian, dia melanjutkan SMP juga di Sumenep. Sekolah lanjutan atas pun diselesaikan di kota paling Barat pulau Madura ini. Minat Said dalam dunia politik terlihat sejak remaja. Dia aktif berorganisasi sejak SMA. Dia pernah menjadi Sekretaris OSIS SMA (1981). Berkat ketekunan dan kegigihannya, dia pernah menjadi Ketua DPC Banteng Muda Indonesia (BMI) Kabupaten Sumenep (1982-1985).

Minat Said berorganisasi terbawa terus hingga tamat SMA. Pada tahun 1984, Said terpilih menjadi Ketua DPC Majelis Muslimin Indonesia Kabupaten Sumenep. Sejak itu, karir politiknya terus melejit. Sebagai politisi yang nasionalis, ia memilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Said terpilih menjadi juru kampanye nasional PDI pada 1987. Tanpa pernah lelah ia mengarungi lautan perpolitikan yang penuh tantangan. Karir politiknya dari waktu ke waktu semakin bersinar. Pada tahun 2004, Said terpilih sebagai anggota DPR RI. Kala itu, ia dianggap oleh pengurus DPP PDIP punya prestasi gemilang, karena berhasil merebut kursi di Sumenep.

Di kalangan teman-temannya, politisi Madura ini dikenal pandai bergaul. Pergaulannya lintas batas karena dia berteman dengan siapa saja tanpa memandang perbedaan etnis, kultur, agama dan aliran politik. Dia seorang sosok pendobrak (prime mover) yang bisa menerobos tembok-tembok primordial. Itulah sebabnya dia dijuluki sosok lintas batas oleh wartawan, dan Sekjen PDIP menyebutnya ‘Mutiara dari Timur’.

Said mengaku sangat mengagumi Soekarno. Bahkan, ia memiliki foto khusus mantan Presiden Republik Indonesia ini dalam ukuran besar. Tidak hanya itu, Said memiliki koleksi buku-buku Bung Karno. Selain mengoleksi, dia juga rajin membolak-balik halaman demi halaman dari koleksinya itu. “Saya melihat Soekarno itu punya ajaran spesifik dan hebat, yaitu nasionalis yang relegius,” pujinya. Tidak heran dia menyebut dirinya sebagai ‘anak ideologis’ Bapak Proklamator itu. Bahkan saking kagumnya pada Bung Karno, tanda tangan politisi asal Madura ini bertuliskan ‘Soekarno’.

Di balik seorang pria sukses, ada seorang wanita tangguh di belakangnya. Peribahasa itu juga berlaku pada karier politik dan bisnis yang dijalani MH Said Abdullah. Dukungan istri tercintanya Khalida Ayu Winarti luar biasa sehingga menjadikan Said Abdullah seperti sekarang ini. Sukses menjalani bisnis dan sukses berkarier di dunia politik dengan dua kali duduk sebagai wakil rakyat di DPR RI dari daerah pemilihan Madura.

“Bagi saya sekali beristri akan terus hingga dibawa mati. Ini prinsip. Ini segala-galanya,” tuturnya.

Tidak mengherankan jika pria santun ini sering kali memberikan kejutan-kejutan kecil yang bermakna dalam bagi istrinya. Kejutan bukan dengan hadiah barang mewah, melainkan sebuah puisi, yang mengungkapkan isi hati Said Abdullah untuk istrinya.

Harmonisasi dalam keluarga, dipercaya Said Abdullah adalah kunci penting dalam hidupnya. Baginya, menjalani apapun tanpa dukungan istri dan keempat anaknya yakni Kaisar Kiasa Kasih Said Putra, Lillahi MAS Bergas DaMarcil, MAS Azel Haq Sang Patroakh dan Seta Zerlinda Saneta Sawina, tidak akan bermanfaat dan sukses. “Apa artinya sukses tanpa mereka,” tambahnya.

Karena itu, Said tidak menyia-nyiakan keluarganya demi apapun. Di waktu luangnya sebagai pebisnis dan anggota Komisi VIII DPR RI, dia menyempatkan diri untuk sekadar memberi makan ikan-ikan yang berada di kolam belakang rumahnya. Selain itu, juga menyempatkan diri untuk menonton televisi. “Ya biasanya cuma ini. Nongkrong. Tapi tidak sering karena saya banyak nongkrong di Senayan (gedung DPR RI, red),” ungkapnya.

Untungnya, anak-anak Said Abdullah mengerti kesibukan Boeya (bapak, red) nya. Karena, Said Abdullah juga juga seringkali memberikan pengertian dan pemahaman bagi anak-anaknya. “Anak itu bukan fotokopi Boeyanya. Sehingga mereka tidak harus menjadi seperti Boeyanya. Mereka bebas mau jadi apa asalkan menjadi orang yang berguna bagi semuanya,” tandasnya.

(Ini puisi Said Abdullah buat istrinya)

Aku lihat negeriku dari senyummu
Buat istriku Ayu Winarti. Istriku Ayu, hari masih pagi dan akan selalu pagi. Sebab panas matahari kau ganti teduh embun yang mengalir dari doa doamu

Di sepanjang jalan, di sepanjang bulan, di sepanjang perjuangan, aku ingat namamu sebagai rindu dan candu. Di sini aku mengenalmu. Ayu sebagai waktu yang mengentaskan penat dan lelahku dengan senyummu
Istriku Ayu, di saat aku berjuang melawan cadas bebatuan, menantang kilat halilintar, melawan penindasan. Kau pun berbisik seperti angin mengalir diantaraa tulang sumsum dan

darahku. Sampai malam dan siang tak habis waktu

Ayu, rasanya aku ingin berdiam di jantungmu, sambil menghitung jejak lusuh para petani yang bercampur pekat kopi dengan secangkir semangat yang kau tuang setiap hari hingga matahari tumbuh pagi

Di sini aku mengenalmu Ayu sebagai kupu-kupu dan kesenian ini terasa begitu lembut di matamu istriku

Ayu, meski detik menjadi tahun dan memangkas perjumpaan kita tapi ia menjelma sebagai bunga sebagai ucap “Merdeka”. Bagi mereka yang dikalahkan dan diasingkan.

Di sini akupun mengenalmu Ayu sebagai Kartini yang lahir kembali di negeri ini.(bjt)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *