80 Persen Lada Indonesia Diekspor ke Luar Negeri

80 Persen Lada Indonesia Diekspor ke Luar Negeri

Jakarta  – Tanaman lada Indonesia memiliki prospek yang bagus. Buktinya, mayoritas lada Indonesia dipasok ke luar negeri. Pada Rabu, 30 April 2014, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, Indonesia sudah lama dikenal sebagai produsen dan penjual lada, bahkan dari zaman kolonial.“Sejarahnya dulu, Belanda datang ke sini. Tidak hanya Belanda, penjajah dari Eropa datang ke Indonesia untuk mengejar lada kita,” kata Bayu seusai memberikan kata sambutan dalam acara “Pepper Day” di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta.

Dia mengungkapkan, permintaan lada dunia mencapai 400 ribu ton. Permintaan ini bahkan terus meningkat 5-7 persen per tahun.

Sementara produksi lada Indonesia sekitar 80-90 ribu ton atau kurang lebih 20 persen dari permintaan dunia. Dari produksi itu, Bayu menyebut, sebagian besar diekspor.

Supply domestik kecil. 80 persen lada Indonesia diekspor ke seluruh dunia dan 20 persen untuk domestik,” kata dia. Sebagian besar lada itu diekspor untuk memenuhi kebutuhan pasar di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.

Bayu lantas mencontohkan misi dagang ke Amerika Serikat, bulan lalu. Dari angka yang diperoleh, permintaan lada dari sana sangat kuat. Lada itu dijual di sejumlah supermarket di AS dengan merek Indonesia. “Sangat laku,” imbuhnya.

Sayangnya, produksi lada Indonesia tidak sepesat permintaan lada dunia. Akibat jangka panjang, lada dari Indonesia tersingkir karena proses produksi yang kurang berkembang.

Harga dan wisata

Lebih lanjut dia menjelaskan mengenai harga pasaran lada putih asal Indonesia. Di pasar dunia, lada putih dibanderol cukup tinggi, yakni Rp125-150 ribu per kilogram (kg). Tetapi, harga lada di tingkat petani hanya sekitar Rp25-50 ribu per kg.

Kedua harga itu dinilai terpaut terlalu jauh sehingga Pemerintah ingin mendorong agar harga yang baik di tingkat konsumen bisa diterima di tingkat petani. “Ini tentu ada masalah di pengolahan, transportasi, dan positioning petani,” kata dia.

Menurut keterangan Kementerian Perdagangan, data International Pepper Community (IPC) pada 2013 menyebutkan bahwa produksi lada Indonesia mencapai 59 ribu ton dengan volume ekspor 41,5 ribu ton.

Nilai ekspornya mencapai US$354 juta. Nilai ekspor tersebut berkontribusi 0,2 persen dari total ekspor Indonesia pada tahun 2013. Adapun konsumsi domestik lada mencapai 16,6 ribu ton.

Di samping itu, Bayu mengusulkan agar ada wisata lada. Alasannya, supaya petani bisa bertahan menanam lada. Misalnya, ada wisata di daerah produsen lada lokal, seperti di Lampung, Bangka, atau Banda. “Bagaimana ceritanya bisa sampai di daerah itu? Ada peninggalannya dan itu bisa kita lihat,” kata dia.

Bayu juga mengusulkan, adanya wisata di perkebunan lada, misalnya ada panen lada bersama saat musim panen tiba. Dia yakin, langkah-langkah ini bisa dipakai agar petani bisa mempertahankan produksi lada mereka dengan baik. “Kalau tidak, permintaan naik terus, tapi produksi kita terbatas,” kata dia.vna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *